It's me

It's me
It's all about me

Selasa, 10 April 2012

Tomcat, Masyarakat Indonesia Lagi-Lagi Berlebihan Menanggapi Suatu Fenomena

Tomcat, atau dalam bahasa latin disebut Paederus Fuscipes adalah serangga yang belakangan ini santer diberitakan meresahkan warga. Padahal pada dasarnya Tomcat atau semut semai merupakan serangga predator pemakan hama wereng yang seringkali membantu petani. Serangga ini tidak terlalu aktif terbang melainkan menjelajah dalam mencari makanannya. Pakannya antara lain serangga-serangga pemakan tanaman dan serangga pradewasa berbentuk telur, kupan, atau infa.
Asal mula nama Tomcat sendiri diambil dari nama produk pestisida di Eropa, disebut dengan panggilan yang sama karena sifat serangga tersebut yang membantu petani memberantas hama seperti layaknya pestisida. Tomcat sendiri sebenarnya hanya serangga sejenis kumbang yang biasa hidup di sawah, taman kota, hutan, atau rawa-rawa. Namun disebut meresahkan karena serangga tersebut keluar jauh dari habitatnya dan muncul di habitat manusia.
Tomcat banyak menghuni areal persawahan padi, namun ketika panen baru Tomcat mulai keluar dari sawah karena ketiadaan padi di sawah tersebut. Faktanya Tomcat adalah serangga kosmopolitan, karena populasinya tersebar dari Sabang hingga Marauke, jadi seharusnya masyarakat tidak perlu heran dengan kehadiran Tomcat di pemukimannya. Sebenarnya ini hal yang wajar karena Tomcat tertarik pada cahaya lampu.
Jika Tomcat belakangan ini mendapat predikat buruk sebagai serangga yang membahayakan, itu hanya karena sengatan racunnya yang membuat kulit gatal dan panas. Populasinya yang dikabarkan meningkat pesat adalah hal yang masih tergolong wajar untuk siklus hidupnya di bulan Maret-April. Karena saat bulan-bulan tersebut pakan serangga ini meningkat, jika sudah melalui kedua bulan itu populasi diyakini akan turun karena pemangsanya, seperti kodok dan kadal, juga akan meningkat.
Namun fenomena yang berseliweran di media cetak maupun elektronik terkesan melebih-lebihkan sehingga membuat masyarakat antipati terhadap Tomcat dengan kekhawatiran yang berlebihan. Padahal serangga Tomcat tak ubahnya seperti lebah yang tidak akan menyengat jika tidak diganggu. Kesalahan tanggap ini seringkali dikarenakan oleh sifat masyarakat Indonesia yang menerima mentah-mentah informasi yang ditangkapnya tanpa disaring dengan bijak dan kritis. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi tentang serangga Tomcat dan penanganannya yang baik, karena tanpa pengetahuan yang cukup di masyarakat, populasi Tomcat sebagai predator hama terancam menurun karena dibasmi oleh masyarakat.


Source :
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/87819

Bukan Masyarakatnya, tapi Pemerintahnya Yang Bermasalah

Sebelum memulai saya memohon maaf jika saya menulis opini ini dari sisi kiri dan terkesan skeptis, karena saya ada di sayap kiri pemerintahan Indonesia. Tapi saya harus menuliskan yang sejujurnya.
Isu kenaikan BBM memang marak belakangan ini, seolah pemerintah belum puas menyengsarakan rakyat demi kepentingannya.  Dampaknya tidak perlu dipertanyakan lagi, hal ini akan semakin mencekik keadaan finansial masyarakat Indonesia. Bagi pejabat-pejabat pemerintah tentu mereka hanya bisa berkoar-koar mengenai teorema ekonomi yang memaksa pemerintah menaikkan harga minyak bumi, tanpa mereka perduli perasaan rakyat kecil. Karena itu menurut saya tidak ada yang salah dengan tindakan protes masyarakat yang begitu hebat demi mempertahankan keberlangsungan hidupnya tanpa perduli teorema-teorema yang dikemukakan para elit politik, adil bukan? Dinaikkan atau tidak, pada akhirnya tetap bukan demi ‘kebaikan masyarakat indonesia’, tapi demi ‘kemakmuran pemerintah’.
Sekarang mari kita coba cerna. Rasanya pemerintah baru kemarin mencanangkan rencana pembangunan gedung baru DPR yang begitu mewah dengan fasilitas ruang spa dan kolam renang (kantor macam apa itu?), diperkirakan akan memakan anggaran Rp 1,164 triliyun. Jelas rencana ini ditolak mentah-mentah dan diprotes masyarakat, tentu sangat tidak etis bersenang-senang ditengah-tengah badai krisis yang menimpa rakyat Indonesia. Saat saya buka alamat web  http://www.dpr.go.id/id/sosialisasi-gedung/kronologi untuk mengetahui kejelasannya, saya tergelitik membaca poin nomor 3 yang berbunyi “Saat ini tiap anggota DPR RI di Gedung Nusantara I menempati ruang seluas +-32m2 diisi 1 anggota, 1 sekretaris, dan 2 staf ahli. Kondisi ini dianggap tidak optimal untuk kinerja dewan”. Apakah mereka (para penghuni gedung DPR) itu sadar bahwa ada 194 ribu sekolah rusak di indonesia, dimana puluhan anak harus belajar di satu kelas yang rusak parah dan -tentunya- tidak mencapai 32 m2 per kelas besarnya. Sekarang sudahkah tampak egoisme pemerintah?
Tentunya masyarakat menolak dengan tegas ide gila memperbaharui gedung DPR dengan alasan dan anggaran yang tidak jelas itu. Meski ditolak, tetap saja ada Rp 800 milyar anggaran pembangunan gedung DPR yang tidak kembali ke kas negara. Dan begitu rencana ditolak, mulai muncul permintaan anggaran-anggaran konyol, seperti untuk renovasi toilet DPR dengan anggaran Rp 2 Milyar untuk 220 toilet di gedung DPR. Bisa bayangkan toilet macam apa yang dalam renovasinya menelan biaya hingga Rp 9 juta per toilet? Mungkin masuk akal bila dilengkapi dengan jacuzzi dan tukang pijit plus-plus eksklusif di dalamnya.
Kaget? Belum selesai masyarakat syok atas ketidakpekaan pemerintah akan kesusahan rakyatnya, tiba-tiba gedung rapat anggaran DPR dikabarkan telah selesai direnovasi dengan anggaran Rp 20 Milyar. Secara lebih lengkapnya sekretariat jendral DPR sebenarnya mengajukan anggaran sebesar Rp 800 Milyar untuk biaya perawatan gedung DPR, namun badan anggaran hanya menyetujui Rp 500 Milyar, termasuk perbaikan gedung rapat anggaran –yang sebenarnya masih sangat layak pakai dan tidak perlu direnovasi- itu.
Sekarang pemerintah Indonesia, sebuah negara penghasil minyak bumi yang sangat besar dan memiliki perusahaan pengolah minyak bumi besar bernama Pertamina, mengaku tidak dapat lagi menanggung subsidi rakyat untuk minyak bumi. Yang saya herankan adalah, bukankah SDA minyak bumi yang menghasilkan adalah tanah Indonesia dan Pertamina sendiri yang mengolahnya, tapi mengapa harus ikut harga minyak mentah dunia? Baru sadarkah anda, bahwa Indonesia masih mengimpor minyak bumi, sumber daya alam yang melimpah di indonesia, dari negara lain dan mengekspor minyak bumi kualitas tinggi dari indonesia ke negara lain. Janggal bukan? Itulah liciknya permainan politik. Masyarakat Indonesia cuma menerima sisa-sisa untuk hasil bumi dan hasil keringat mereka, sisanya ada di kantung para pejabat.
Lantas untuk apa subsidi BBM direncanakan akan ditarik, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menutupi kerugian badan anggaran atas perilaku anggota DPRnya yang banyak menghabiskan kas negara. Menutupi kerugian atas Gayus dan teman-teman seperjuangannya, menutupi kehausan para pejabat akan kesenangan mereka study banding (baca: bersenang-senang) ke luar negeri, dan menutupi perilaku para elit politik yang menguras anggaran dengan korupsinya. Jadi pikirkan kembali, dengan tindakan ‘menarik subsidi BBM’dimana sisi baiknya bagi masyarakat indonesia? Masyarakat Indonesia tetap akan menanggung hutang negara yang terus bertambah atas perbuatan para elit politik yang gemar meminjam uang dan mengemis ke negara tetangga.
Indonesia menobatkan diri sebagai negara demokratis, pemerintahan di tangan rakyat dan dipertanggung jawabkan ke rakyat. Itu berarti seharusnya rakyatlah yang menjadi atasan para pemerintah, bukan rakyat yang justru ditindas. Urusan mengatur kelangsungan anggaran negara, kita –rakyat Indonesia- sebagai atasan- telah mengamanatkannya kepada pemerintah. Jika ada hal-hal yang salah perhitungan mengenai anggaran hingga pemerintah merugi, jangan salahkan kami para rakyat, itu tanggung jawab pemerintah. Dan sudah sepatutnya merekalah yang repot, pantas dipersalahkan dan dituntut untuk menawarkan solusi untuk memperbaiki kecerobohannya tanpa mengorbankan kami, rakyat Indonesia. Meski ini masih impian, tapi sudah sepatutnya para elit politik dan pemerintah yang berkorban menguras anggaran hidupnya demi kelangsungan hidup rakyatnya, bukan malah sebaliknya. Permasalahannya, tidak pernah ada sejarahnya para pejabat di pemerintahan mau berhenti hidup foya-foya di saat rakyatnya menjerit menderita. Jadi selama itu tidak dihentikan, saya tidak akan berhenti berada di sayap kiri pemerintahan.


Sumber :
http://www.tribunnews.com/2012/01/05/anggaran-toilet-rp-2-miliar-baru-pagu
http://www.dpr.go.id/id/sosialisasi-gedung/kronologi
http://wahw33d.blogspot.com/2012/01/anggaran-renovasi-gedung-dpr-capai-rp.html
http://www.jubilee-jkt.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=925:jumlah-sekolah-rusak-mencapai-194-ribu&catid=113:morat-marit-infrastruktur-pendidikan&Itemid=164

Media Jejaring Sosial Layaknya Pisau

Kehadiran media jejaring sosial telah merubah sistem tatanan sosial manusia, terutama dalam hal menambah channel/ kenalan di seantero indonesia, bahkan dalam cakupan internasional. Orang-orang yang tidak pernah bertemu sama sekali bahkan bisa saling mengobrol pada waktu yang sama (online). Proses dalam berkenalan dan menjalin hubungan pun menjadi berubah seratus delapan puluh derajat lebih praktis dibanding dulu. Orang yang baru berkenalan dan mengobrol via jejaring sosial tanpa bertemu sama sekali bisa begitu mengenal dan saling mempercayai satu sama lain, bahkan bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih intens dan tidak jarang berlanjut ke pernikahan, tentunya setelah menjalani proses kopi darat.
Media jejaring sosial memang menambah praktis proses perkenalan dan penyebaran informasi. Tapi karena itu pula media jejaring sosial menjadi riskan disalah gunakan pihak-pihak yang berniat buruk. Orang lain bisa begitu mengenal informasi seseorang hanya karena orang tersebut menyebarkan informasi tentang dirinya dengan terbuka di jejaring sosial. Bahkan foto-foto, informasi penting seperti alamat dan nomor telepon pun kadang dipajang secara ceroboh. Hal-hal yang bersifat privasi tersebut jika tidak diamankan sangat bisa digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melancarkan kejahatannya, atau dalam tingkat paling rendah bisa disebut ‘keisengannya’. Apalagi internet merupakan sumber informasi yang tercepat dan dinamis, seseorang dapat mengirim suatu informasi agar dapat dilihat oleh seluruh pengunjung internet di seluruh dunia dalam hitungan detik. Maka jika hal-hal privasi yang kita pajang disalah gunakan dan disebar, seperti kasus pengeditan foto menjadi foto bugil misalnya, akan sulit untuk dapat menariknya kembali dari jangkauan mata pengunjung-pengunjung internet.
Jika kita tilik beberapa tahun lalu, telah banyak kasus-kasus yang bersumber dari media jejaring sosial, hingga sempat  menimbulkan kontroversi tentang media jejaring sosial yang dinilai berdampak buruk. Banyak gadis remaja ABG kabur dari rumah hanya untuk menemui pria yang hanya dikenalnya melalui dunia maya, bahkan dibawa kabur pria tersebut dan dimanfaatkan tubuhnya. Lucu memang, tapi fenomena tersebut sempat membuat media jejaring sosial dipersalahkan dan dianggap haram. Bahkan berita-berita buruk yang berseliweran mengenai media jejaring sosial sempat membuat para orangtua melarang anaknya menggunakan media jejaring sosial dengan bentuk apapun.
Sebenarnya jika kita melihat masalah ini secara bijak, media jejaring sosial tak ubahnya seperti sebuah pisau. Jika kita mampu memakainya dengan baik maka media jejaring sosial akan membawa banyak manfaat bagi diri kita, tetapi jika kita tidak mampu memakainya dengan baik dan bijaksana maka media jejaring sosial itu justru bisa menimbulkan bahaya bagi diri kita sendiri. Memang tidak ada yang salah dalam mencari kenalan dari media jejaring sosial, namun akan sangat baik jika kita tidak sembarangan mempercayai orang yang tidak pernah kita temui. Meskipun kita dapat melihat foto, ucapan-ucapannya, dan merasa mengenalinya secara dekat,  kita harus tetap waspada karena orang tersebut tetaplah seseorang yang asing, yang bisa saja menutup akunnya dan mendadak menghilang dalam sekejap mata.
Jika kita mau mencoba membuka pikiran, banyak hal-hal baik yang bisa didapat dengan berpartisipasi dalam media jejaring sosial. Antara lain kita mendapat kemudahan untuk mengakses orang-orang asing diluar negeri kita dengan mudahnya, tanpa terbatas kendala waktu dan tempat. Jika tanpa media jejaring sosial, bisa dibayangkan betapa sulitnya mencari kenalan orang asing di luar negeri kita. Selain itu kita dapat aktif berpartisipasi dalam grup-grup di media jejaring sosial dan mendukung gerakan yang bisa membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar kita, bahkan dunia.
Intinya, media jejaring sosial diciptakan hanya untuk mempermudah komunikasi antar manusia, bukan menjadi pengganti dunia nyata dalam urusan hubungan antar manusia. Media jejaring sosial tetap tidak dapat menggantikan prosedur manual untuk mencari dan menseleksi kenalan dengan bertatap muka, untuk mencari sahabat, maupun untuk mencari pasangan. Bagaimanapun berkenalan di dunia nyata tetap jauh lebih aman dibanding berkenalan di dunia maya, karena itu jangan mudah mempercayai orang yang baru kita kenal di media jejaring sosial apalagi sebelum bertemu langsung. Dan kita harus tetap bijak menyaring informasi-informasi yang akan kita bagi di media jejaring sosial, karena dalam sekali klik maka informasi tersebut akan menyebar dan dapat dilihat oleh orang-orang di seluruh penjuru dunia.

Senin, 19 Maret 2012

Pesona Kuliner Nusantara (Tulisan Bhs Indonesia 2)



Sudah rahasia umum bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan rempah-rempah. Hal itu juga yang menarik para penjajah untuk mendaratkan kakinya di tanah Nusantara. Dan kekayaan rempah-rempah itu membawa keuntungan tersendiri untuk citarasa hidangan Indonesia.
Setelah rendang dinobatkan menjadi makanan terlezat di dunia dan sambal terasi indonesia menjadi makanan terpedas di dunia mengalahkan rekor cabe Thailand, makanan Indonesia menjadi semakin dikenal dan dicari para penikmat kuliner Dunia. Mereka kaget, bangsa yang tidak diperhitungkan sebagai kiblat kuliner dunia dapat menghasilkan citarasa yang menakjubkan. Padahal kita, masyarakat indonesia sudah tidak heran. Karena kita tahu, sebenarnya bangsa ini adalah bangsa yang kreatif. Itu baru dari satu daerah, belum berbagai makanan dari seluruh nusantara.
Di setiap tempat di berbagai Nusantara memiliki ciri khas rasa yang berbeda satu dengan lainnya. Dimulai dari daerah Sumatra, makanan yang dihasilkan didominansi rasa pedas dan gurih dengan rempah-rempah yang lekat, senada dengan watak masyarakatnya yang keras dan tinggal di pegunungan. Makanan tradisional yang terkenal dari Sumatra antara lain rendang, berbagai gulai, daun singkong tumbuk, sambal telur balado. Belum lagi berbagai camilan menantang selera seperti keripik balado, kerupuk kulit, dan berbagai keripik pedas lain.
Di Jawa Barat lain lagi. Jawa Barat khas dengan citarasa asin dan gurihnya. Gepuk, berbagai pepesan, ikan bakar, ayam bakar, lalapan sunda dengan sambal terasinya biasa kita temukan di berbagai restoran sunda. Belum lagi berbagai inovasi makanan dan camilan yang seringkali hadir di kota Kembang Bandung, seperti keripik Maicih yang santer belakangan ini. Tidak heran kota Bandung sekarang ini dikenal sebagai pusat penghasil jajanan baru.
Lain padang lain belalang, jika di Jawa Barat dominan dengan rasa asin, beda lagi tetangganya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dominansi rasa manis dari makanan tradisionalnya akan memanjakan lidah kita. Jawa Tengah seringkali  menjagokan ayam bakar kalasan, bandeng presto, soto kudus, kupat tahu belum lagi camilan seperti lumpia semarang, getuk juga es dawet. Sedangkan dari jawa timur menghasilkan hidangan bakso malang, toge goreng, rawon, tahu petis, soto ambengan, juga yang menjadi primadona soto dan sate madura yang banyak dijual di pinggiran jalan.
Sekarang kita tilik daerah istimewa di indonesia, yaitu Aceh, Yogyakarta dan Jakarta. Dari aceh paling populer adalah mie aceh. Dari Betawi dicirikan dengan kerak telor dan soto betawi dengan kue cucur dan pancong sebagai camilan. Sedangkan dari Jogja tentu saja gudeg Jogja dan nasi kucingnya.
Belum lagi dari pulau-pulau lain seperti Bali, Kalimantan, Sulawesi,Papua dan sebagainya. Begitu banyak kuliner nusantara yang belum kita cicipi, sayangnya masyarakat sekarang lebih menikmati makanan2 asing dari mancanegara. Padahal para turis asing pun semakin banyak yang mencari tahu dan menggemari makanan indonesia. Karena itu, mulailah bangga dengan makanan negeri sendiri.

Minggu, 04 Maret 2012

Tulisan 3 : Hardskill Sebagai Pengekspresian Jatidiri


Setiap orang mempunyai minat yang berbeda pada suatu bidang. Ketertarikan tersebut bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana sejak kanak-kanak. Seperti cita-cita seorang anak menjadi pilot yang dipacu ketertarikannya melihat pesawat terbang, atau cita-cita menjadi dokter ketika seorang anak kagum melihat cara kerja dokter di rumah sakit. Namun ketertarikan kecil tersebut bisa memacu semangat yang besar untuk mendalami lebih jauh suatu bidang ilmu, dan minat yang sederhana itu bisa menjadi jalan keluar untuk mengekspresikan jati diri seseorang. Itulah yang dinamakan Hardskill, suatu bidang ilmu yang dipelajari secara tekun dan mendalam yang dipelajari seseorang karena menarik minatnya.
Hardskill bisa menjadi bentuk ekspresi jati diri, karena sekali lagi, minat tiap orang berbeda dalam tiap bidang. Sayangnya sistem pendidikan di Indonesia kurang mendukung anak terfokus mendalami bidang ilmu yang diminatinya. Nyatanya di Indonesia jika seorang anak yang nilai rapotnya biasa saja, cenderung tinggi di nilai seni lukis tapi bobrok di nilai matematika, maka orangtuanya akan memanggil guru les matematika untuk anak tersebut. Padahal bisa saja anak tersebut memang terlahir untuk menjadi pelukis besar, jika saja orangtuanya menyalurkan kemampuan lebih anaknya dalam bidang seni dengan memanggil guru seni lukis. Bahkan tragisnya di Indonesia setiap anak dituntut untuk menjadi manusia sempurna, sempurna dalam nilai eksak, sains, komputer, berbagai macam bahasa, semua harus dikuasainya sekaligus sebelum dapat lulus sekolah. Bayangkan beban yang dipikul generasi muda kita kini.
Seorang anak yang ada di hadapan kita bisa saja menjadi Neil Amstrong selanjutnya, atau Albert Einstein berikutnya, atau Mozart di abad ini, siapa yang tahu kecuali kita mengarahkannya ke kemampuan unggulan yang diminatinya. Karena setiap orang lahir dengan takdir yang berbeda, dapat sukses dengan jalan yang berbeda, dan dapat berguna bagi sekitarnya dengan cara yang berbeda, dan hardskill berperan sebagai sarana pengantar mereka menuju takdir hidup mereka masing-masing. Hardskill membimbing seseorang untuk menemukan posisinya di dunia ini agar dapat berguna bagi orang-orang sekitarnya. Jika dianalogikan, bumi sebagai kumpulan puzzle terpencar, dan hardskill sebagai petunjuk kemana kita harus menempatkan puzzle kita di bumi ini sebagai pelengkap bumi, agar hidup kita tidak sia-sia dan bermanfaat untuk bumi yang kita tempati. Maka itu, berbicara tentang hardskill selalu mengingatkan pada takdir, tentang pencarian jati diri agar seseorang tidak hanya dapat bahagia, tapi juga untuk menjadi “lebih” dari orang lain pada suatu bidang, sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain dengan bidang yang dikuasai itu. Saat kita sudah dapat bermanfaat bagi sekeliling dengan bidang yang kita kuasai, saat itulah kita disebut telah menemukan jati diri kita, yaitu alasan kenapa kita diciptakan hidup di dunia.

Tulisan 2 : Softskill Penting untuk Modal Hidup

Banyak orang mendalami suatu bidang ilmu berat secara fokus untuk dikuasai. Dan karena fokus itu, bidang yang lain seringkali dianggap remeh. Begitu juga dalam pendidikan, setiap orangtua pasti bangga jika anaknya pintar dalam ilmu komputer, mahir matematika, tapi tampaknya jarang ada yang bangga jika anaknya mahir menulis atau berbicara. Dan kemampuan softskill memang kurang dapat direpresentasikan dalam nilai-nilai dan kurang diapresiasi di jenjang pendidikan, tapi sangat terasa manfaatnya jika telah memasuki kehidupan nyata nantinya.

Seperti yang kita tahu, dunia kerja itu keras, tidak hanya melulu membutuhkan kemampuan hardskill yang mumpuni, tapi harus ditunjang kemampuan berbahasa dan bernalar yang baik. Kita mungkin boleh memfokuskan kemampuan kita dalam suatu bidang, tapi akan fatal akibatnya jika kita tidak memiliki kemampuan softskill sebagai penunjang. Sebagai contoh, seorang ilmuwan yang amat mahir matematika pun, jika menemukan rumus atau metode baru akan susah mengkomunikasikannya ke orang-orang di sekelilingnya jika ia tidak memiliki kemampuan bicara dan tata bahasa yang baik. Atau seorang ahli biologi yang menemukan teori baru, akan susah mengkomunikasikannya ke orang-orang di sekelilingnya tentang teori tersebut jika ia tidak bisa menulis dan memilah kata dengan benar. Bisa dibilang, softskill adalah jembatan intelektualitas kita ke dunia luar. Jadi softskill sangat berguna, agar pengetahuan kita pada suatu bidang dapat tersampaikan sehingga dapat berguna bagi sekeliling.

Selain itu, kita mungkin sibuk bergelut menguasai suatu bidang yang kita pilih, tapi jangan lupa bahwa hidup tak selalu berjalan mulus seperti yang kita duga. Banyak orang-orang berpendidikan tinggi yang mahir pada bidang tertentu, pada kenyataannya mendapat pekerjaan tentang bidang yang amat jauh berbeda. Banyak ditemui belakangan ini sarjana komputer yang bekerja di bidang akutansi, atau sarjana psikologi yang bekerja di bidang periklanan. Saat itu terjadi, softskill lah penyelamat mereka. Karena itu softskill jauh lebih penting untuk dipelajari daripada ilmu hardskill yang terfokus dan mendalam. Karena pada penerapannya, ilmu yang terlalu mendalam seringkali tidak perlu diaplikasikan dalam hidup, sedangkan softskill digunakan pada hampir semua bidang kehidupan. Terlepas dari dunia kerja, lebih dari itu menurut saya softskill adalah modal hidup manusia.
 Kemampuan sampingan yang bisa kita sebut softskill itu telah banyak menyelamatkan hidup orang-orang yang memilikinya. Orang-orang yang tidak bersekolah tinggi pun seringkali sukses menata hidupnya karena kemampuan softskillnya. Para pedagang, wirausaha, mereka lebih banyak memanfaatkan softskillnya daripada pengetahuan mereka dari bangku sekolah tentang ilmu-ilmu berat yang kita sebut hardskill. Rumus-rumus, teori-teori para ahli, definisi-definisi, semua itu semakin lama akan terkikis dari pikiran kita karena aplikasinya dalam hidup kurang dibutuhkan. Lebih dari itu, softskill menurut saya lebih mengacu pada tingginya derajat berpikir seorang manusia. Seseorang yang lebih bisa menata bahasa dalam berbicara, atau mengaplikasikannya dalam tulisan, akan memiliki adab yang lebih dalam hidupnya. Seseorang yang tutur bahasanya lebih seru juga tentu lebih asyik dijadikan teman bicara dan lebih bisa menarik hari banyak orang. Itulah softskill, tidak mementingkan nilai-nilai konkrit diatas kertas, justru lebih mengacu pada ketinggian nilai hidup seseorang. Terlepas dari segi komersil atau materiil, softskill itu penting untuk mempelajari cara mengekspresikan semua perasaan di dalam pikiran dan hati manusia. Jika seseorang telah memiliki kemampuan softskill yang baik, bisa dibilang orang tersebut punya modal sukses dalam aspek hidupnya, karena softskill membuat seseorang lebih peka menjiwai hidupnya. 

Jumat, 02 Maret 2012

Tulisan 1 : Benarkah Mobil Esemka merupakan Mobil Kebanggaan Indonesia?

Mobil Esemka tercipta berkat ide brilian pak Sukiat untuk mengumpulkan anak-anak SMK di seantero kota Solo untuk membuat proyek yang bisa membuktikan kemampuan mereka. Sebelumnya Pak Sukiat bukan siapa-siapa, hanya pemilik sekaligus pekerja bengkel mobil Kiat Motor yang mempunyai hasrat untuk membuat Indonesia mandiri dalam bidang otomotif. Sejak lama ia memang gandrung mengajari anak-anak SMK sekitar daerahnya untuk merakit mobil sendiri. Dari kebiasaan sederhana inilah projek mobil Esemka ini dimulai. Dan sekarang ia kembali bukan siapa-siapa setelah namanya yang tercatut di merk mobil Kiat Esemka dihilangkan oleh Joko Widodo. Meski Sukiyat mengaku kecewa, tapi inilah perang pencitraan, yang lebih berkuasa yang mengambil untung.
Mobil Esemka sebenarnya telah ada sejak 2008, namun pamornya baru bergaung akhir-akhir ini. Sekitar tahun 2011 hingga awal tahun 2012 mobil Esemka semakin ramai dibicarakan, dikatakan sebagai representasi kemampuan tunas bangsa yang mumpuni dalam bidang otomotif. Dalam tangan-tangan para pembuat mobil Esemka inilah harapan besar akan kemajuan industri otimotif Indonesia dibebankan. Bahkan mobil Esemka ini digadang-gadang sebagai calon mobil nasional. Tapi apakah kepopuleran nama mobil Esemka ini sejalan dengan kualitasnya? Dan apakah minat masyarakat kepada mobil ini murni didasarkan pada kepercayaan dan kebanggaan pada produk lokal? Jujur saya ragu. Saya pikir ini karena Joko Widodo dan nama besarnya saja.
Setelah salah seorang pejabat pemerintahan, Joko Widodo yang merupakan walikota Solo, membeli mobil ini, kepopuleran mobil ini lantas meningkat pesat.  Para pejabat lain lantas berbondong-bondong mengikuti langkahnya, entah benar-benar karena kepercayaan pada produk lokal atau pencitraan semata. Dan selayaknya kita kenal, masyarakat Indonesia cenderung latah pada suatu tren, apalagi yang mengawali adalah orang yang berkuasa atau setidaknya punya nama. Sejak itu mobil ini –dengan ajaib- menarik minat begitu banyak masyarakat, hingga pengelola mobil Esemka mengaku diserang begitu banyak pesanan , via telepon maupun online, hingga melebihi batas kemampuan produksi. Apakah minat beli masyarakat karena kualitas mobil Esemka memang membanggakan atau karena mengikuti tren semata? Saya yakin pendapat terakhir adalah jawaban yang lebih dominan. Jika ditanyakan pada para pembeli atau calon pembeli tentang sebab mereka memilih mobil Esemka, saya pesimis akan mendapatkan jawaban yang menyebutkan tentang kualitas mobil lokal ini.  Tidak ada kemampuan yang benar-benar mencengangkan dari mobil ini, tidak ada inovasi, penampilannya standar, bahkan masih kalah jauh dengan mobil-mobil impor yang ada di pasaran Indonesia. Baru terbukti belakangan ini bahwa mobil Esemka tidak lulus uji emisi. Jadi benarkan mobil Esemka benar-benar “mobil kebanggaan Indonesia”. Lebih dari itu, pertanyaan yang menggelitik adalah benarkan mobil Esemka “benar-benar mobil Indonesia”?
Seperti diketahui bersama, mobil Esemka tercipta di tangan Sukiat dan para siswa di berbagai SMK di Solo, diproduksi di Solo, tapi apakah itu cukup untuk menyebut mobil Esemka sebagai mobil Indonesia? Saya rasa tidak. Saya tidak pernah mendengar adanya industri pembuatan bahan baku mobil lokal di Indonesia, jadi kalaupun para pembuat mobil Esemka mengaku “membuat” mobil Esemka, nyatanya mereka hanya “merakit” mobil dengan semua bahan yang –ternyata baru diketahui- dipasok dari Cina. Apakah itu sudah cukup membuat kita bangga dan dengan pongah menyebut mobil Esemka sukses menjadi mobil kebanggaan Indonesia? Anehnya saya sama sekali belum bisa bangga. Jika begitu adanya, apa bedanya produsen mobil Esemka dengan para buruh di perusahaan Yamaha Indonesia misalnya. Di pabrik Yamaha Indonesia, para buruh berkerja setiap hari untuk merakit semua bahan baku yang telah dipasok dari pusatnya di Jepang dan menghasilkan berunit-unit motor yang dipasarkan di Indonesia ini. Saya rasa mereka sama, sama-sama hanya dituntut untuk merakit  dengan mencontek prosedur yang sudah ada, lalu dimana hebatnya? Saya akan lebih menghargai jika setidaknya pada mobil Esemka terdapat inovasi baru, gagasan fresh dari otak cemerlang generasi muda indonesia, tapi tampaknya satu-satunya inovasi pada mobil Esemka adalah hanya karena dihasilkan oleh tangan para siswa SMK di Indonesia.
Poin penting yang dapat disimpulkan disini, lebih baik masyarakat lebih mengkaji tentang kebanggaan mereka dengan mobil Esemka. Indonesia belum pantas berbangga hati dulu, masih banyak hal-hal yang perlu dibenahi dari keberadaan mobil Esemka. Baik dari segi pengakuan, kualitas produk maupun pengelolaannya. Yang saya rindukan saat ini adalah sebuah mobil Indonesia dengan bahan baku, pencipta, dan linsensi murni dari Indonesia dengan gagasan baru dan kualitas bersaing, dan itu belum terwujud pada mobil Esemka, karena itu saya belum bisa bangga terhadap mobil Esemka. Tapi saya akui bahwa isu terciptanya mobil Esemka ini merupakan pembangun kesadaran masyarakat tentang geliat industri otomotif lokal di Indonesia. Saya harap ini akan membawa kemajuan dan semangat di industri otomotif Indonesia untuk lebih berani maju dan bersaing.